Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Fenomena Selebgram Lelaki Feminin di Aceh: Kontestasi Opini Publik di Ruang Digital

 Munculnya berita viral mengenai “Selebgram Lelaki Feminin” di Aceh menjadi salah satu contoh nyata bagaimana ruang digital membentuk, memperdebatkan, dan menggiring opini publik. Berita yang ditayangkan oleh Serambinews.com pada 21 September 2025 dengan judul yang menyinggung aspek keharaman penghasilan selebgram lelaki feminin memicu gelombang reaksi luas di media sosial. Akun-akun informasi lokal seperti @infobandaaceh dan @tercydukaceh turut menyebarluaskan ulang berita tersebut, sehingga diskursus publik semakin meluas dan intens. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran selebgram atau influencer lelaki dengan penampilan feminin memang menjadi bagian dari dinamika budaya populer digital. Mereka memanfaatkan media sosial sebagai ruang ekspresi diri sekaligus sumber ekonomi. Namun, ketika fenomena ini hadir di Aceh daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan nilai-nilai syariat Islam respon publik menjadi jauh lebih kompleks dan sensitif. ...

Peran PBB dalam Krisis Kemanusiaan Rohingya: Antara Mandat, Politik, dan Keterbatasan Nyata

  Krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar merupakan salah satu tragedi kemanusiaan paling kompleks dan berkepanjangan di abad ke-21. Hingga saat ini, ratusan ribu warga Rohingya terusir dari tanah kelahirannya di Negara Bagian Rakhine dan hidup sebagai pengungsi di berbagai negara, terutama Bangladesh. Dalam situasi ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi-organisasi internasional di bawahnya diharapkan mampu menjadi aktor utama dalam melindungi hak asasi manusia dan menyelesaikan konflik. Namun, efektivitas peran PBB dalam menangani krisis Rohingya masih menuai banyak kritik. Secara historis, konflik Rohingya berakar pada kebijakan diskriminatif pemerintah Myanmar. Undang-Undang Kewarganegaraan Myanmar tahun 1982 secara sistematis menolak pengakuan kewarganegaraan bagi etnis Rohingya, menjadikan mereka kelompok tanpa kewarganegaraan (stateless). Kondisi ini diperparah dengan operasi militer Myanmar pada tahun 2017 yang memicu eksodus besar-besaran Roh...

Pedang Bermata Dua: Menakar Globalisasi dan Kapitalisme dalam Komunikasi Kita

 Di era digital saat ini, batasan antarnegara seolah memudar hanya dalam satu ketukan layar. Kita bisa dengan mudah menonton konser musisi dari Amerika melalui YouTube atau memesan produk fashion dari Korea Selatan melalui aplikasi belanja. Fenomena ini adalah wajah nyata dari globalisasi yang dijalankan oleh mesin besar bernama kapitalisme. Namun, di balik kemudahan yang kita nikmati, terdapat realitas kritis yang perlu kita bedah secara mendalam: apakah kemajuan komunikasi ini benar-benar membebaskan kita, atau justru memenjara kita dalam sistem baru? Secara kritis, saya melihat bahwa globalisasi komunikasi di Indonesia sering kali bersifat "searah." Contohnya, kehadiran platform media sosial seperti TikTok atau Instagram memang memberikan ruang bagi ekspresi diri. Namun, jika kita telaah lebih jauh, platform ini adalah produk kapitalisme yang didesain untuk meraup keuntungan melalui data pribadi dan atensi penggunanya. Dalam perspektif komunikasi global, kita sering kali h...