Pedang Bermata Dua: Menakar Globalisasi dan Kapitalisme dalam Komunikasi Kita
Di era digital saat ini, batasan antarnegara seolah memudar hanya dalam satu ketukan layar. Kita bisa dengan mudah menonton konser musisi dari Amerika melalui YouTube atau memesan produk fashion dari Korea Selatan melalui aplikasi belanja. Fenomena ini adalah wajah nyata dari globalisasi yang dijalankan oleh mesin besar bernama kapitalisme. Namun, di balik kemudahan yang kita nikmati, terdapat realitas kritis yang perlu kita bedah secara mendalam: apakah kemajuan komunikasi ini benar-benar membebaskan kita, atau justru memenjara kita dalam sistem baru?
Secara kritis, saya melihat bahwa globalisasi komunikasi di Indonesia sering kali bersifat "searah." Contohnya, kehadiran platform media sosial seperti TikTok atau Instagram memang memberikan ruang bagi ekspresi diri. Namun, jika kita telaah lebih jauh, platform ini adalah produk kapitalisme yang didesain untuk meraup keuntungan melalui data pribadi dan atensi penggunanya. Dalam perspektif komunikasi global, kita sering kali hanya menjadi konsumen pesan-pesan global dibandingkan menjadi produsen makna. Budaya konsumerisme yang dibawa oleh kapitalisme masuk ke ruang privasi kita melalui iklan yang sangat personal (targeted ads), yang secara perlahan menggeser nilai-nilai lokal Indonesia yang cenderung kolektif menjadi lebih individualis dan materialistis.
Selain itu, ada masalah mengenai "Kedaulatan Digital." Ketika seluruh komunikasi kita mulai dari urusan pekerjaan hingga obrolan pribadi bergantung pada infrastruktur milik korporasi raksasa global, kita sebenarnya sedang menyerahkan kedaulatan informasi kita pada sistem kapitalisme global. Di sini, komunikasi bukan lagi dipandang sebagai hak asasi untuk bertukar informasi demi kemajuan bersama, melainkan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Kesenjangan informasi pun tetap terjadi; mereka yang memiliki modal (gadget canggih dan internet cepat) akan jauh lebih maju dibandingkan mereka yang tertinggal di pelosok negeri, menciptakan apa yang disebut sebagai digital divide atau jurang digital.
Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa kapitalisme juga mendorong inovasi teknologi yang luar biasa. Tanpa adanya kompetisi pasar, kita mungkin tidak akan merasakan efisiensi komunikasi seperti sekarang. Kuncinya terletak pada literasi kritis masyarakat. Kita harus mampu memisahkan mana teknologi yang bermanfaat untuk pengembangan diri dan mana yang hanya sekadar jebakan konsumerisme.
Komentar
Posting Komentar